Selasa, 11 Desember 2018

Hungaria, Tim Pertama Yang Patahkan Rekor Inggris Di Wembley

London, 25 November 1953
Pertemuan dengan Hungaria di tahun 1953 tak akan dilupakan Inggris. Meski pertandingan berstatus persahabatan, tetapi saat itulah Inggris mulai sadar bahwa ada kekuatan sepakbola lain yang tidak bisa dipandang remeh, Hungaria.
.
Hungaria yang berstatus juara Olimpiade diremehkan oleh Inggris yang yakin akan mengalahkannya. Apalagi laga dilangsungkan di stadion angker, Wembley.
Sejarah mencatat, belum ada tim manapun yang berhasil mengalahkan Inggris jika mereka bermain di Wembley.
.
Meremehkan lawan ternyata sebuah blunder besar. Dihadapan 105.000 suporter, Hungaria tampil luar biasa. Laga baru berjalan 50 detik, mereka sudah unggul melalui Nandor Hidegkuti.
Inggris berhasil menyamakan kedudukan 1-1 melalui Jackie Sewell. Tetapi lagi-lagi Hidegkuti berhasil mencetak gol keduanya.
.
Tak lama berselang, Ferenc Puskas mencetak gol, diikuti gol keempat oleh Jozsef Bozsik. Di akhir babak kedua Mortensen memperkecil ketinggalan. Inggris 2, Hungaria 4.
.
Di babak kedua, tekanan Hungaria semakin beringas, Puskas mencetak gol keduanya kemudian Hidegkuti mencetak hat-trick. Alf Ramsey mencetak gol terakhir Inggris yang di akhir laga takluk 3-6.
.
Inggris akhirnya sadar bahwa tidak hanya orang Inggris yang fasih bermain bola. Dalam statistik, Inggris hanya mampu melepaskan 5 tembakan, sementara Hungaria 35 tembakan ke gawang Inggris.
.
Pertandingan yang kemudian sempat dijuluki sebagai "pertandingan abad ini" itu akhirnya mematahkan rekor tanpa kalah Inggris di Wembley. Hungaria menjadi tim pertama yang berhasil mengalahkan Inggris di Wembley.
.
Skuat Inggris: Gil Merrick; Alf Ramsey, Bill Eckersley, Billy Wright, Harry Johnston; Jimmy Dickinson, Stanley Matthews, Ernie Taylor, Stan Mortensen; Jackie Sewell, George Robb
Pelatih: Walter Winterbottom
.
Skuat Hungaria: Gyula Grosics (Sandor Gellar, 80), Jeno Buzanszky, Mihalay Lantos, Jozsef Bozsik, Gyula Lorant, Jozsef Zakarias; Laszlo Budai, Sandor Kocsis, Nandor Hidegkuti, Ferenc Puskas, Zoltan Czibor
Pelatih: Gusztav Sebes

Sabtu, 10 November 2018

Berdiri dan Jatuhnya Klub Super Italia

Turin, 3 Desember 1906
Pada 3 Desember 1906, sebuah kelompok orang yang beranggotakan mantan pemain Juventus dan juga pelatih masa depan Italia, Vittorio Pozzo, mendirikan sebuah klub yang diberi nama AC Torino. Yang kemungkinan menjadi salah satu klub tersukses dan paling tragis.
Para pendiri itu bertemu dan berkumpul di Voigt, tempat pembuatan bir di Turin, termasuk di dalamnya ada mantan pemain Juventus, Alfredo Dick.
Kelompok itu juga ada pebisnis asal Swiss, Hans Schoenbrod, yang kemudian menjadi pemilik pertama Torino.
Juga termasuk pemuda 20 tahun mantan pemain Grasshopper Zürich, Vittorio Pozzo, yang menjadi pelatihnya sebelum menangani timnas Italia saat menjadi Juara Dunia tahun 1934 dan 1938.
Torino meraih gelar liga pertama mereka di tahun 1928, dan menjadi penguasa Italia pada tahun 1940an dengan tim yang dikenal dengan sebutan Il Grande Torino. Mereka memenangkan 5 scudetto pada dekade itu. Termasuk gelar empat kali beruntun di tahun 1946 hingga 1949.
Kesuksesan luar biasa mereka kemudian berakhir dalam tragedi. Kecelakaan pesawat pada Mei 1949 menewaskan total 18 orang. Para pemain Torino yang juga anggota timnas Italia ikut tewas, termasuk beberapa ofisial, jurnalis, dan kru.
Kecelakaan itu membuat Torino mengalamai masa kemunduran. Mereka mengalami masa suram karena sempat beberapa kali naik turun dari Serie A ke Serie B, walaupun mereka sempat menjuarai liga di tahun 1976.
Pada 2005, Asosiasi Sepakbola Italia mengeluarkan Torino dari liga karena kesulitan finansial, tetapi mereka kembali di tahun itu dengan nama sebagai Torino FC.

Senin, 29 Oktober 2018

Tangan Henry Loloskan Perancis

Paris, 18 November 2009

Pada 18 November 2009, Perancis memastikan diri lolos ke putaran final Piala Dunia 2010 berkat proses gol yang menjadi salah satu paling kontroversial dalam sejarah sepakbola.

Menghadapi Irlandia dalam laga play-off setelah kedua tim finish di posisi kedua klasemen di masing-masing grup, Perancis diunggulkan untuk meraih tiket ke Afrika Selatan.

Perancis memenangi leg pertama di Dublin dengan skor 0-1, sehingga mereka hanya membutuhkan hasil imbang untuk lolos ketika bermain di Paris.
Tetapi pada menit ke-32 striker Irlandia, Robbie Keane berhasil membuat timnya unggul. Les Bleus berusaha mati-matian untuk menyamakan kedudukan tetapi berulangkali digagalkan oleh permainan brilian kiper Shay Given. 

Dengan agregat sama kuat 1-1 maka pertandingan akan berlanjut ke babak perpanjangan waktu ketika tendangan bebas Florent Malouda mengarah kepada Thierry Henry yang berada di kotak penalti.
Henry dengan jelas mengontrol bola dengan lengan kirinya sebelum mengirimkan umpan ke William Gallas berhasil membuat Perancis menyamakan kedudukan. Given dan seluruh pemain Irlandia dengan segera melakukan protes, tetapi wasit tetap mengesahkan gol dan melanjutkan pertandingan.

Pertandingan pun berakhir dengan agregat 1-2 untuk kemenangan Perancis.

Seusai laga Henry mengakui telah mengontrol bola dengan menggunakan tangannya, tetapi dia tidak mau bertanggungjawab atas aksinya dengan mengatakan, "saya bukanlah wasit."
Irlandia mengajukan petisi kepada FIFA menuntut untuk dilakukannya pertandingan ulang, tetapi ditolak.

Meskipun frustrasi atas ketidaklolosan mereka, para suporter Irlandia sedikit mendapatkan pelipur lara karena penampilan buruk Perancis di Piala Dunia 2010.
Seperti diketahui, Perancis hanya berhasil meraih satu poin hasil dari satu kali imbang dan dua kali kekalahan yang membuat mereka finish di posisi juru kunci grup.

Minggu, 28 Oktober 2018

Mesir Juara Piala Afrika Dengan Rekor 13 Tahun Tak Terkalahkan.

Luanda, 31 Januari 2010

Pada 31 Januari 2010, Mesir menjuarai Piala Afrika dengan rekor 19 laga beruntun tanpa kalah di turnamen itu. Catatan tanpa kalah itu dimulai sejak tahun 2004.

Laga tanpa kalah Mesir dimulai pada tahun 2004 ketika mereka bermain imbang tanpa gol melawan Kamerun di laga terakhir penyisihan grup. Laga ini juga merupakan laga terakhir Mesir di Piala Afrika 2004 karena gagal lolos ke babak selanjutnya.

Berlanjut pada gelaran Piala Afrika tahun 2006 dan 2008, yang keduanya dimenangkan oleh Mesir dengan rekor tanpa kalah hingga partai puncak. Secara keseluruhan itu merupakan gelar kelima dan keenam Mesir.

Kemudian di tahun 2010 mereka tetap tak terkalahkan hingga ke babak final di mana akan menghadapi Ghana. Bermain di hadapan 50.000 suporter di stadion 11 de Novembro, di Luanda, Angola, pertandingan tetap tanpa gol hingga menit ke-85, ketika pemain pengganti Mohamed "Gedo" Nagy mencetak gol kemenangan 1-0 untuk Mesir.
Mesir mencetak rekor hat-trick beruntun menjuarai Piala Afrika mereka yang ketujuh.

Dalam 19 laga tanpa kalah itu, juga termasuk rekor 9 kemenangan beruntun. Fantastis.
Strek kemenangan itu terhenti ketika bermain imbang 0-0 melawan Mali di penyisihan grup di Piala Afrika 2017. Tetapi Mesir tetap mempertahankan laga tanpa kalah mereka hingga 24 pertandingan setelah dikalahlan Kamerun di final Piala Afrika tahun 2017.

Kamis, 06 September 2018

Crvena Zvezda Yang Kini Meninggalkan Forest dan Villans

Crvena Zvezda adalah salah satu mantan juara Piala Champions yang berhasil lolos ke fase grup Liga Champions untuk kali pertama.
Crvena Zvezda yang dulu bernama Red Star Belgrade adalah kampiun Piala Champions pada edisi 1990-1991.

Di musim 2018-2019 ini tersisa dua klub mantan juara Piala Champions yang belum pernah merasakan pentas Liga Champions.
Mereka adalah Nottingham Forest dan Aston Villa.

• Nottingham Forest:
Partisipasi terakhir di Piala Champions pada musim 1980-1981.
Belum pernah debut di Liga Champions selama 38 tahun.

• Aston Villa:
Partisipasi terakhir di Piala Champions pada musim 1982-1983.
Belum pernah debut di Liga Champions selama 36 tahun.

• Crvena Zvezda:
Partisipasi terakhir di Piala Champions pada musim 1991-1992.
Butuh waktu 27 tahun untuk melakukan debut di Liga Champions pada musim 2018-2019.

• Manchester United:
Partisipasi terakhir di Piala Champions pada musim 1968-1969.
Butuh waktu 25 tahun untuk melakukan debut di Liga Champions pada musim 1993-1994.

• Liverpool:
Partisipasi terakhir di Piala Champions pada musim 1984-1985.
Butuh waktu 17 tahun untuk melakukan debut di Liga Champions pada musim 2001-2002.

• Hamburg SV:
Partisipasi terakhir di Piala Champions pada musim 1983-1984.
Butuh waktu 17 tahun untuk melakukan debut di Liga Champions pada musim 2000-2001.

• Glasgow Celtic:
Partisipasi terakhir di Piala Champions pada musim 1988-1989.
Butuh waktu 10 tahun untuk melakukan debut di Liga Champions pada musim 1998-1999.

Minggu, 26 Agustus 2018

Fabregas; Pencetak Gol Termuda Arsenal

London, 2 Desember 2003

Pada 2 Desember 2003, Cesc Fabregas mencetak gol telat untuk Arsenal ketika menghancurkan Wolves 5-1 di Piala Liga. Dia berusia 16 tahun 212 hari dan dia menjadi pencetak gol termuda di tim utama Arsenal sepanjang sejarah.

Fabregas bergabung dengan The Gunners pada bulan September di tahun itu. Kemudian pada Oktober dia sudah membuat sejarah ketika bermain melawan Rotherham United di Piala Liga, menjadi pemain termuda yang dimainkan di tim utama Arsenal.

Laga melawan Wolves menjadi penampilan kedua Fabregas bersama Arsenal. Bermain di stadion Highbury di hadapan 28.161 penonton, tuan rumah berhasil unggul 4-0 lewat gol Jermaine Aliadiere (24, 71), Nwankwo Kanu (68),  dan Sylvain Wiltord (79) sebelum gelandang Wolves, Alex Rae merobek jala Arsenal di menit ke-80. Tetapi pada menit ke-88 Fabregas yang saat itu memakai nomor punggung 57, mencetak gol penutup untuk Arsenal.

Itu adalah satu-satunya gol Fabregas di musim itu dari tiga penampilan. Dia total mencetak 53 gol dari 280 laga dan mulai menjadi kapten Arsenal pada November 2008.

[ig: soccer_remind]

Rabu, 01 Agustus 2018

Duet Ro-Ro Attack

Romario Faria dan Ronaldo Nazario merupakan salah satu duet terbaik sepanjang sejarah sepakbola Brazil, bahkan dunia.
Mereka menjadi duo striker yang dijuluki Ro-Ro Attack karena keganasannya membobol gawang lawan hingga ditakuti oleh kiper lawan.

Mereka sempat beberapa kali bermain bersama untuk timnas Brazil. Hasilnya sungguh luar biasa. Duet maut itu berhasil mencetak total 30 gol hanya dalam 18 kali pertandingan ketika mereka dimainkan bersama. Rinciannya, Romario mencetak 16 gol, sedangkan Ronaldo 14 gol.

Puncaknya ketika mereka berhasil menjuarai titel pertamanya di Copa America 1997 di mana Brazil mengalahkan tuan rumah Bolivia dengan skor 3-1. Ini sekaligus menjadi trofi kelima Brazil di ajang tersebut. Mereka berhasil mencetak total 8 gol. Romario 5 gol dan Ronaldo 3 gol.

Kemudian trofi kedua mereka raih ketika di Piala Konfederasi 1997 di Arab Saudi, mereka juga berhasil mengantarkan Brazil menjadi yang terbaik setelah mengalahkan Australia 6-0 di partai puncak.

Di mana duet Ro-Ro itu masing-masing berhasil mencetak hat-trick di final sekaligus trofi pertama Brazil di Piala Konfederasi. Menjadikan Romario sebagai peraih Golden Boot dengan 7 gol, diikuti Vladimir Smicer dari Republik Ceko dengan 5 gol, dan Ronaldo 4 gol.

[ig: soccer_remind]