Soccer Reminder by Satria H. Rosa | Instagram: soccer_remind | Twitter: @satria_hippie |
Jumat, 04 April 2025
Totti; Bertahan Di Roma Adalah Kemenangan
Lahirnya Pemain Kontroversial, El Hadji Diouf
Comeback Gila Manchester City Dengan 10 Pemain
Selasa, 11 Desember 2018
Hungaria, Tim Pertama Yang Patahkan Rekor Inggris Di Wembley
.
Hungaria yang berstatus juara Olimpiade diremehkan oleh Inggris yang yakin akan mengalahkannya. Apalagi laga dilangsungkan di stadion angker, Wembley.
Sejarah mencatat, belum ada tim manapun yang berhasil mengalahkan Inggris jika mereka bermain di Wembley.
.
Meremehkan lawan ternyata sebuah blunder besar. Dihadapan 105.000 suporter, Hungaria tampil luar biasa. Laga baru berjalan 50 detik, mereka sudah unggul melalui Nandor Hidegkuti.
Inggris berhasil menyamakan kedudukan 1-1 melalui Jackie Sewell. Tetapi lagi-lagi Hidegkuti berhasil mencetak gol keduanya.
.
Tak lama berselang, Ferenc Puskas mencetak gol, diikuti gol keempat oleh Jozsef Bozsik. Di akhir babak kedua Mortensen memperkecil ketinggalan. Inggris 2, Hungaria 4.
.
Di babak kedua, tekanan Hungaria semakin beringas, Puskas mencetak gol keduanya kemudian Hidegkuti mencetak hat-trick. Alf Ramsey mencetak gol terakhir Inggris yang di akhir laga takluk 3-6.
.
Inggris akhirnya sadar bahwa tidak hanya orang Inggris yang fasih bermain bola. Dalam statistik, Inggris hanya mampu melepaskan 5 tembakan, sementara Hungaria 35 tembakan ke gawang Inggris.
.
Pertandingan yang kemudian sempat dijuluki sebagai "pertandingan abad ini" itu akhirnya mematahkan rekor tanpa kalah Inggris di Wembley. Hungaria menjadi tim pertama yang berhasil mengalahkan Inggris di Wembley.
.
Skuat Inggris: Gil Merrick; Alf Ramsey, Bill Eckersley, Billy Wright, Harry Johnston; Jimmy Dickinson, Stanley Matthews, Ernie Taylor, Stan Mortensen; Jackie Sewell, George Robb
Pelatih: Walter Winterbottom
.
Skuat Hungaria: Gyula Grosics (Sandor Gellar, 80), Jeno Buzanszky, Mihalay Lantos, Jozsef Bozsik, Gyula Lorant, Jozsef Zakarias; Laszlo Budai, Sandor Kocsis, Nandor Hidegkuti, Ferenc Puskas, Zoltan Czibor
Pelatih: Gusztav Sebes
Sabtu, 10 November 2018
Berdiri dan Jatuhnya Klub Super Italia
Kelompok itu juga ada pebisnis asal Swiss, Hans Schoenbrod, yang kemudian menjadi pemilik pertama Torino.
Senin, 29 Oktober 2018
Tangan Henry Loloskan Perancis
Paris, 18 November 2009
Pada 18 November 2009, Perancis memastikan diri lolos ke putaran final Piala Dunia 2010 berkat proses gol yang menjadi salah satu paling kontroversial dalam sejarah sepakbola.
Menghadapi Irlandia dalam laga play-off setelah kedua tim finish di posisi kedua klasemen di masing-masing grup, Perancis diunggulkan untuk meraih tiket ke Afrika Selatan.
Perancis memenangi leg pertama di Dublin dengan skor 0-1, sehingga mereka hanya membutuhkan hasil imbang untuk lolos ketika bermain di Paris.
Tetapi pada menit ke-32 striker Irlandia, Robbie Keane berhasil membuat timnya unggul. Les Bleus berusaha mati-matian untuk menyamakan kedudukan tetapi berulangkali digagalkan oleh permainan brilian kiper Shay Given.
Dengan agregat sama kuat 1-1 maka pertandingan akan berlanjut ke babak perpanjangan waktu ketika tendangan bebas Florent Malouda mengarah kepada Thierry Henry yang berada di kotak penalti.
Henry dengan jelas mengontrol bola dengan lengan kirinya sebelum mengirimkan umpan ke William Gallas berhasil membuat Perancis menyamakan kedudukan. Given dan seluruh pemain Irlandia dengan segera melakukan protes, tetapi wasit tetap mengesahkan gol dan melanjutkan pertandingan.
Pertandingan pun berakhir dengan agregat 1-2 untuk kemenangan Perancis.
Seusai laga Henry mengakui telah mengontrol bola dengan menggunakan tangannya, tetapi dia tidak mau bertanggungjawab atas aksinya dengan mengatakan, "saya bukanlah wasit."
Irlandia mengajukan petisi kepada FIFA menuntut untuk dilakukannya pertandingan ulang, tetapi ditolak.
Meskipun frustrasi atas ketidaklolosan mereka, para suporter Irlandia sedikit mendapatkan pelipur lara karena penampilan buruk Perancis di Piala Dunia 2010.
Seperti diketahui, Perancis hanya berhasil meraih satu poin hasil dari satu kali imbang dan dua kali kekalahan yang membuat mereka finish di posisi juru kunci grup.
Minggu, 28 Oktober 2018
Mesir Juara Piala Afrika Dengan Rekor 13 Tahun Tak Terkalahkan.
Luanda, 31 Januari 2010
Pada 31 Januari 2010, Mesir menjuarai Piala Afrika dengan rekor 19 laga beruntun tanpa kalah di turnamen itu. Catatan tanpa kalah itu dimulai sejak tahun 2004.
Laga tanpa kalah Mesir dimulai pada tahun 2004 ketika mereka bermain imbang tanpa gol melawan Kamerun di laga terakhir penyisihan grup. Laga ini juga merupakan laga terakhir Mesir di Piala Afrika 2004 karena gagal lolos ke babak selanjutnya.
Berlanjut pada gelaran Piala Afrika tahun 2006 dan 2008, yang keduanya dimenangkan oleh Mesir dengan rekor tanpa kalah hingga partai puncak. Secara keseluruhan itu merupakan gelar kelima dan keenam Mesir.
Kemudian di tahun 2010 mereka tetap tak terkalahkan hingga ke babak final di mana akan menghadapi Ghana. Bermain di hadapan 50.000 suporter di stadion 11 de Novembro, di Luanda, Angola, pertandingan tetap tanpa gol hingga menit ke-85, ketika pemain pengganti Mohamed "Gedo" Nagy mencetak gol kemenangan 1-0 untuk Mesir.
Mesir mencetak rekor hat-trick beruntun menjuarai Piala Afrika mereka yang ketujuh.
Dalam 19 laga tanpa kalah itu, juga termasuk rekor 9 kemenangan beruntun. Fantastis.
Strek kemenangan itu terhenti ketika bermain imbang 0-0 melawan Mali di penyisihan grup di Piala Afrika 2017. Tetapi Mesir tetap mempertahankan laga tanpa kalah mereka hingga 24 pertandingan setelah dikalahlan Kamerun di final Piala Afrika tahun 2017.
Kamis, 06 September 2018
Crvena Zvezda Yang Kini Meninggalkan Forest dan Villans
Crvena Zvezda adalah salah satu mantan juara Piala Champions yang berhasil lolos ke fase grup Liga Champions untuk kali pertama.
Crvena Zvezda yang dulu bernama Red Star Belgrade adalah kampiun Piala Champions pada edisi 1990-1991.
Di musim 2018-2019 ini tersisa dua klub mantan juara Piala Champions yang belum pernah merasakan pentas Liga Champions.
Mereka adalah Nottingham Forest dan Aston Villa.
• Nottingham Forest:
Partisipasi terakhir di Piala Champions pada musim 1980-1981.
Belum pernah debut di Liga Champions selama 38 tahun.
• Aston Villa:
Partisipasi terakhir di Piala Champions pada musim 1982-1983.
Belum pernah debut di Liga Champions selama 36 tahun.
• Crvena Zvezda:
Partisipasi terakhir di Piala Champions pada musim 1991-1992.
Butuh waktu 27 tahun untuk melakukan debut di Liga Champions pada musim 2018-2019.
• Manchester United:
Partisipasi terakhir di Piala Champions pada musim 1968-1969.
Butuh waktu 25 tahun untuk melakukan debut di Liga Champions pada musim 1993-1994.
• Liverpool:
Partisipasi terakhir di Piala Champions pada musim 1984-1985.
Butuh waktu 17 tahun untuk melakukan debut di Liga Champions pada musim 2001-2002.
• Hamburg SV:
Partisipasi terakhir di Piala Champions pada musim 1983-1984.
Butuh waktu 17 tahun untuk melakukan debut di Liga Champions pada musim 2000-2001.
• Glasgow Celtic:
Partisipasi terakhir di Piala Champions pada musim 1988-1989.
Butuh waktu 10 tahun untuk melakukan debut di Liga Champions pada musim 1998-1999.
Minggu, 26 Agustus 2018
Fabregas; Pencetak Gol Termuda Arsenal
London, 2 Desember 2003
Pada 2 Desember 2003, Cesc Fabregas mencetak gol telat untuk Arsenal ketika menghancurkan Wolves 5-1 di Piala Liga. Dia berusia 16 tahun 212 hari dan dia menjadi pencetak gol termuda di tim utama Arsenal sepanjang sejarah.
Fabregas bergabung dengan The Gunners pada bulan September di tahun itu. Kemudian pada Oktober dia sudah membuat sejarah ketika bermain melawan Rotherham United di Piala Liga, menjadi pemain termuda yang dimainkan di tim utama Arsenal.
Laga melawan Wolves menjadi penampilan kedua Fabregas bersama Arsenal. Bermain di stadion Highbury di hadapan 28.161 penonton, tuan rumah berhasil unggul 4-0 lewat gol Jermaine Aliadiere (24, 71), Nwankwo Kanu (68), dan Sylvain Wiltord (79) sebelum gelandang Wolves, Alex Rae merobek jala Arsenal di menit ke-80. Tetapi pada menit ke-88 Fabregas yang saat itu memakai nomor punggung 57, mencetak gol penutup untuk Arsenal.
Itu adalah satu-satunya gol Fabregas di musim itu dari tiga penampilan. Dia total mencetak 53 gol dari 280 laga dan mulai menjadi kapten Arsenal pada November 2008.
[ig: soccer_remind]
Rabu, 01 Agustus 2018
Duet Ro-Ro Attack
Romario Faria dan Ronaldo Nazario merupakan salah satu duet terbaik sepanjang sejarah sepakbola Brazil, bahkan dunia.
Mereka menjadi duo striker yang dijuluki Ro-Ro Attack karena keganasannya membobol gawang lawan hingga ditakuti oleh kiper lawan.
Mereka sempat beberapa kali bermain bersama untuk timnas Brazil. Hasilnya sungguh luar biasa. Duet maut itu berhasil mencetak total 30 gol hanya dalam 18 kali pertandingan ketika mereka dimainkan bersama. Rinciannya, Romario mencetak 16 gol, sedangkan Ronaldo 14 gol.
Puncaknya ketika mereka berhasil menjuarai titel pertamanya di Copa America 1997 di mana Brazil mengalahkan tuan rumah Bolivia dengan skor 3-1. Ini sekaligus menjadi trofi kelima Brazil di ajang tersebut. Mereka berhasil mencetak total 8 gol. Romario 5 gol dan Ronaldo 3 gol.
Kemudian trofi kedua mereka raih ketika di Piala Konfederasi 1997 di Arab Saudi, mereka juga berhasil mengantarkan Brazil menjadi yang terbaik setelah mengalahkan Australia 6-0 di partai puncak.
Di mana duet Ro-Ro itu masing-masing berhasil mencetak hat-trick di final sekaligus trofi pertama Brazil di Piala Konfederasi. Menjadikan Romario sebagai peraih Golden Boot dengan 7 gol, diikuti Vladimir Smicer dari Republik Ceko dengan 5 gol, dan Ronaldo 4 gol.
[ig: soccer_remind]
Jumat, 27 Juli 2018
Gol Dengan Satu Kaki Patah
London, 31 Maret 2010
Pada 31 Maret 2010 kapten Arsenal, Francesc Fabregas mencetak gol ke gawang Barcelona di perempatfinal Liga Champions. Dia melakukannya dengan satu kaki yang telah patah.
Fabregas bergabung dengan Arsenal pada 2003 setelah lima musim bermain di tim akademi Barcelona.
Pada pertandingan itu, Barcelona sebagai penguasa Eropa lebih diunggulkan, tetapi Arsenal berhasil menahan imbang tanpa gol hingga jeda.
Tetapi satu menit babak kedua dimulai, bola lambung menuju garis pertahanan Arsenal berhasil dikuasai Zlatan Ibrahimovic, yang kemudian me-lob bola melewati kiper Almunia di tiang jauh. Kemudian dia mencetak gol kedua pada menit ke-59 setelah berhadapan satu lawan satu dengan Almunia. Tetapi sepuluh menit kemudian Theo Walcott memperkecil kedudukan menjadi 1-2.
Arsenal kemudian gencar melancarkan serangan untuk menyamakan kedudukan, hasilnya ketika bek Barcelona, Carles Puyol melanggar Fabregas di menit ke-85. Fabregas sendiri yang mengambil algojo dan berhasil mencetak gol. Kemudian setelah itu dia mulai pincang dan memegangi kakinya.
Selintas dia kesakitan seperti orang yang tertarik ototnya atau kram. Tetapi setelah dilakukan scan, dinyatakan bahwa pelanggaran yang dilakukan Puyol menyebabkan retak tulang betis di kaki kanannya. Akhirnya dia tidak mampu melanjutkan permainan.
Akibatnya Fabregas harus menepi di pertemuan kedua di mana Arsenal kalah telak 4-1 di Camp Nou.
Di musim selanjutnya dia bertahan di Arsenal sebelum dijual ke Barcelona dengan transfer sebesar £ 29 juta pada 2011. Kemudian dia meninggalkan Barcelona untuk bergabung dengan Chelsea di tahun 2014.
[ig: soccer_remind]
Selasa, 17 Juli 2018
Insiden Ludah Rijkaard Kepada Voller
Milan, 1990
Pada Piala Dunia 1990, Frank Rijkaard meludahi Rudi Voller hingga membuat keduanya mendapatkan kartu merah.
Pada babak 16 besar Piala Dunia 1990, Jerman menghadapi Belanda di Stadion San Siro, Milan. Pemain Jerman, Rudi Voller, dijaga ketat oleh Rijkaard. Aksi Voller yang lincah memaksa Rijkaard mengganjalnya dengan keras sehingga membuatnya mendapatkan kartu kuning.
Tetapi Rijkaard memprotes wasit karena menganggap Voller hanya berpura-pura terjatuh.
Sambil berlari, Rijkaard melakukan aksi tidak terpuji dengan meludahi rambut belakang Voller sehingga membuatnya melakukan protes kepada wasit. Tetapi bukannya mendengar keluhan Voeller, wasit asal Argentina, Juan Carlos Loustau, yang tidak melihat aksi Rijkaard malah memberi pemain Jerman itu kartu kuning karena dianggap memprotes terlalu keras.
Beberapa detik kemudian saat tendangan bebas, Voller mengejar bola yang mengarah ke gawang Belanda, tetapi bola lebih dulu ditangkap kiper Hans Van Breukelen. Secara spontan, Voller melompat guna menghindari tabrakan dengan Van Breukelen. Voller terjatuh dan memegangi kakinya, tetapi kiper Belanda itu mengira Voller melakukan diving agar mendapatkan tendangan penalti.
Saat itu juga Van Breukelen dan Rijkaard menghampiri dan marah kepada Voller dan terjadi cekcok antar mereka. Rijkaard memprovokasi dengan menjewer telinga Voller.
Voller yang tidak terima lalu menepis tangan Rijkaard sehingga terjadi adu mulut.
Striker Jerman, Juergen Klinsmann sempat melerai keributan mereka, tetapi saat itu juga wasit Loustau mengeluarkan kartu merah kepada Rijkaard dan Voller.
.
Ketika Voller berjalan keluar lapangan, Rijkaard kembali meludahi Voeller untuk kedua kalinya lantas berlari ke lorong ruang ganti.
Di pertandingan itu, Jerman berhasil mengalahkan Belanda dengan skor 2-1. Dua gol dari Juergen Klinsmann dan Andreas Brehme membuat Jerman unggul 2-0. Belanda hanya mampu memperkecil kedudukan melalui penalti Ronald Koeman di menit ke-89.
Di akhir turnamen, Jerman yang diarsiteki Franz Beckenbauer berhasil menjadi Juara Dunia untuk ketiga kalinya setelah di final mengalahkan Argentina 1-0 lewat gol tunggal Andreas Brehme.
Senin, 16 Juli 2018
Handball Dari Pemain Bola Voli Pantai
Moskow, 15 Juni 2018
Ivan Perisic berhasil mencetak satu gol ke gawang Perancis di final Piala Dunia 2018.
Tetapi satu golnya tidak mampu membawa Kroasia juara karena harus mengakui keunggulan Perancis dengan skor 4-2
Salah satu gol dari Perancis lahir dari gol penalti Griezmann karena Ivan Perisic menyentuh bola dengan tangannya di kotak penalti.
Soal memainkan bola dengan tangan, bukanlah hal yang baru bagi Ivan Perisic.
Siapa sangka dia adalah atlet voli pantai profesional bagi Kroasia. Dia pernah mengikuti turnamen voli Porec Major yang diselenggarakan oleh FIVB Beach Volley Ball World Tour pada tahun 2017.
Turnamen Porec Major merupakan turnamen resmi voli pantai bagi para pemain profesional yang diselenggarakan oleh FIVB, Federasi Voli Pantai Internasional. .
Perisic yang berpasangan dengan Niksa Dell'Orco harus kalah oleh pasangan asal Amerika Serikat yaitu Casey Patterson dan Theo Brunner di Red Bull Beach Arena.
"Ini (bermain voli pantai) selalu menjadi impian saya. Saya telah bermain voli pantai sejak usia 10 tahun. Saya sangat bergairah dengan permainan ini dan setiap musim panas saya selalu berlatih bersama teman saya di Split."
"Saya ingin berterimakasih kepada semua orang yang telah memberi saya kesempatan untuk bermain bersama pemain voli pantai terbaik di dunia."
"Ini sungguh mengagumkan, meskipun saya kalah", ujar Perisic.
Kemudian sang lawan Perisic, Patterson, yang juga bermain di Olimpiade Rio 2016 menambahkan;
"Sungguh luar biasa bermain melawan Ivan (Perisic), saya berharap bisa bermain hebat dalam sepakbola, seperti dia yang juga hebat bermain voli pantai."
[ig: soccer_remind]
Rabu, 11 Juli 2018
Semifinal Piala Dunia 1990; Air Mata Gazza
Delle Alpi, Turin. 1990
"Air Mata Gazza" menjadi topik utama di berbagai koran di Italia pada tahun 1990. Hingga puluhan tahun setelahnya tetap diingat tiap kali timnas Inggris menghadapi Jerman.
Air mata Paul "Gazza" Gascoigne membanjiri pipinya sesaat setelah dia menerima kartu kuning ketika Inggris dikalahkan Jerman Barat di pertandingan semifinal Piala Dunia 1990. Bahkan air matanya berlanjut ketika pertandingan usai.
Setelah beberapa permainan individu yang brilian melewati dua pemain Jerman Barat, Gazza kehilangan kontrol dengan bola hingga akhirnya melakukan tackle telat kepada Thomas Berthold yang membuatnya mendapatkan kartu kuning.
Gascoigne yang merupakan pemain termuda Inggris di turnamen, tahu konsekuensi atas hukuman pelanggaran itu.
Sebelumnya, dia telah menerima kartu kuning di babak 16 besar ketika melanggar pemain Belgia, Enzo Scifo. Artinya, dia tidak akan bisa bermain di final andai Inggris melaju ke partai puncak.
"Saat saya masih remaja dan bermain di tim muda, tiap malam saya bermimpi untuk bisa bermain di Piala Dunia. Dan di Italia saya meraih mimpi itu."
"Ketika saya mendapatkan kartu kuning, saya tahu semuanya telah berakhir", kenang Gazza.
Pelatih Inggris, Bobby Robson bisa merasakan kesedihan Gazza.
"Hatiku sungguh pilu", kata Bobby.
"Karena saya menyadari, bahwa ini adalah yang terakhir bagi Gascoigne. Ini adalah tragedi untuknya, untuk saya, untuk tim, untuk negara, dan untuk seluruh sepakbola."
"Karena dia terlalu bagus, dia juga hebat di pertandingan istimewa. Semakin besar pertandingannya, semakin baik yang dia dapat."
Rekan setim Gascoigne di Tottenham, Gary Lineker, kemudian tertangkap kamera melakukan gestur ke arah bangku cadangan Inggris ketika dia mencoba menenangkan Gascoigne.
"Saya bahkan tidak menyadari itu (gestur) dilihat oleh orang banyak, tidak terkecuali oleh kamera televisi."
"Saya melihat bibir bawahnya bergetar dan mulai menangis, saya ingin Bobby menyadarinya", kata Lineker.
Gazza terlalu sedih saat itu, tetapi dia menggambarkan kejadian itu di dalam bukunya, Glorious: My World, Football and Me.
"Tiba-tiba saya tidak mendengar apapun", tulisnya.
"Dunia tiba-tiba berhenti saat itu. Mata saya mengikuti gerakan tangannya (wasit), saat masuk ke kantong, kemudian keluar dengan kartu (kuning) itu."
Setelah Inggris kalah dalam adu tendangan penalti, Bobby Robson menenangkan pemain 23 tahun itu.
"Jangan khawatir", kata Bobby.
"Kamu telah menjadi salah satu pemain terbaik di turnamen. Ini adalah Piala Dunia pertamamu."
Tetapi pada kenyataannya, tragedi bagi Gazza bukan hanya saat Inggris kalah dalam adu penalti, tetapi Italia 1990 adalah Piala Dunia pertama dan terakhir bagi Gascoigne. Setelah itu dia tidak pernah lagi memperkuat timnas Inggris di Piala Dunia hingga ia pensiun.
"Saya tidak pernah mendapat kesempatan bermain di Piala Dunia selanjutnya", kata Gascoigne.
"Italia 1990 adalah momen terbaik bagi saya, dan saya tidak ingin momen itu berakhir. Saat itu saya berpikir bahwa kami akan memenangkan Piala Dunia. Sungguh sulit untuk mengingatnya. 'Hari-hari itu.'
Pada akhirnya bukan hanya Gazza yang tidak bisa bermain di partai final, melainkan seluruh pemain Inggris karena kalah adu penalti 4-3 setelah sebelumnya bermain seri 1-1 di waktu 120 menit. Gol Andreas Brehme pada menit ke-59 dibalas oleh Gary Lineker pada menit ke-80.
Di babak tos-tosan dua penendang Inggris, Stuart Pearce dan Chris Waddle gagal mengeksekusi dengan baik. Sementara keempat penendang Jerman Barat berhasil menggetarkan gawang Inggris.
Kemudian FIFA World Football Museum di Zurich memamerkan kartu kuning yang diacungkan oleh wasit Jose Ramiz Wright kepada Gazza.
Selasa, 03 Juli 2018
Kalah Tapi Tetap Membanggakan
Rostov-on-Don, 3 Juli 2018
Mimpi di Rostov-on-Don tidak akan pernah dilupakan oleh Jepang. Mimpi buruk bernama Nacer Chadli yang memupuskan harapan Jepang untuk melaju ke perempat final.
Sempat unggul 2-0 atas Belgia lewat gol Genki Haraguchi (49) dan Takashi Inui (52), Jepang yang bermain efektif takluk oleh gol serangan balik di menit ke-94.
Tiga gol dari Verthongen, Fellaini, dan Chadli membuat para suporter Jepang menangis. Mereka kalah 2-3 atas Eden Hazard cs.
Tetapi yang patut dicontoh oleh suporter lain adalah meski timnasnya kalah secara menyakitkan, seperti biasa para suporter Jepang melakukan hal yang membanggakan, mereka membersihkan sampah-sampah di sekitar tribun seusai pertandingan.
Di Piala Dunia 2014 lalu, mereka juga melakukan hal yang sama meski timnasnya dikalahkan Pantai Gading.
Mereka berjiwa besar dan memiliki kesadaran akan kebersihan stadion. Bahkan, sebagian dari mereka ada yang membersihkan sampah sambil berlinang air mata.
Perilalu suporter Jepang juga dilakukan oleh skuat mereka. Meskipun mereka menangis setelah laga, para pemain Jepang juga merapikan serta membersihkan bangku cadangan dan ruang ganti mereka sebelum meninggalkan lapangan.
Di dalam ruang ganti, mereka juga meninggalkan catatan singkat di sebuah kertas dengan bahasa Rusia yang bertuliskan "Спасибо" [baca: Spasiba] yang artinya "Terima Kasih".
Huge respect for Japan.
[ig: soccer_remind]
Minggu, 01 Juli 2018
Cucchiaio Totti Dan Kemenangan Italia
Amsterdam, 30 Juni 2000
Francesco Totti berbicara kepada rekan setimnya, Luigi Di Biagio sebelum mengambil tendangan cucchiaio, tendangan penalti dengan men-chip bola.
Totti: "Lihatlah, Van Der Sar begitu besar. Aku akan menendang dengan cucchiaio."
Di Biagio: "Apa kamu gila? Ini EURO dan kamu akan melakukan chip?!"
Totti: "Lihat saja..."
Peristiwa ini terjadi di semifinal EURO 2000 saat Italia bersua tuan rumah Belanda. Italia harus bermain dengan 10 orang sejak menit ke-34 setelah Gianluca Zambrotta terkena kartu merah. Frank De Boer dan Patrick Kluivert gagal mengeksekusi penalti di waktu normal. Skor 0-0 berakhir hingga 120 menit dan laga dilanjutkan dengan adu penalti.
Di babak tos-tosan, Italia mencetak dua gol pertama melalui Luigi Di Biagio dan Gianluca Pessotto. Sementara dua penendang pertama Belanda, Frank De Boer dan Jaap Stam gagal.
Francesco Totti yang menjadi eksekutor ketiga Italia berjalan dengan tenang ketika akan mengambil tendangan. Sementara Van Der Sar menyemangati diri sendiri dan meminta dukungan dengan berteriak dan bertepuk tangan ke arah suporter Belanda yang berada di belakang gawang.
Totti kemudian mengambil ancang-ancang. Saat wasit Markus Merk meniup peluit, dia berlari seolah akan menendang bola dengan kencang. Totti melakukan cucchiaio sedikit ke arah kiri, sementara Van Der Sar yang tertipu menjatuhkan diri ke kanan.
Gol indah dan disambut dengan sukacita para pemain, official dan tentu saja suporter Italia. Gol Totti berhasil memperlebar jarak menjadi 3-0.
Patrick Kluivert menjadi penendang ketiga Belanda berhasil memperkecil skor menjadi 3-1. Sementara penendang keempat Italia, Paolo Maldini gagal menaklukkan Van Der Sar sehingga memberi harapan Belanda untuk memperkecil jarak.
Tetapi, penendang keempat mereka Paul Bosvelt, gagal melakukan tugas dengan baik setelah tendangannya berhasil di blok Toldo. Italia 3, Belanda 1.
Italia berhasil melangkah ke final tetapi kalah 1-2 oleh Perancis melalui golden goal David Trezeguet.
[ig: soccer_remind]
Kamis, 28 Juni 2018
Tragedi Permen Yeot Dan Kemenangan Epik Korea Selatan
Kazan, 27 Juni 2018
Kemenangan Korea Selatan 2-0 atas Jerman sungguh mengejutkan banyak pihak. Mereka memutar balikkan prediksi bahwa mereka akan menjadi bulan-bulanan Jerman.
Bahkan sebelum laga, pelatih mereka Shin Tae-yong pesimistis ketika mengatakan peluang Korea Selatan menang atas Jerman hanya 1 persen.
Kemenangan yang mungkin melegakan para penggawa mereka ketika kembali ke negaranya.
Tambahan tiga poin membawa Korea Selatan naik ke posisi ketiga setelah di dua laga awal mengalami kekalahan.
Setidaknya tragedi di Piala Dunia 2014 lalu tidak akan terulang ketika mereka hanya finis di posisi juru kunci.
Saat itu mereka gagal bersaing di grup H karena kalah 2-4 oleh Aljazair dan 0-1 melawan Belgia. Mereka hanya mengumpulkan satu poin hasil imbang 1-1 melawan Rusia dengan selisih gol minus tiga.
Saat itu ketika kembali ke negaranya, skuat Korea Selatan ditunggu oleh para awak media dan sekitar 200 suporter di bandara Internasional Incheon.
Bukannya disambut dengan tepuk tangan, mereka disambut bak pecundang.
Kerja keras mereka di Brazil seperti tidak dihargai oleh beberapa oknum suporter. Mereka yang kecewa dengan penampilan timnasnya melempari para pemain Korea Selatan dengan permen sejenis gula-gula. Di Korea Selatan permen ini disebut dengan permen yeot.
Beberapa suporter yang melempar itu sembari berteriak "makanlah yeot!"
Jika Anda bukan orang Korea, mungkin dilempar permen yeot adalah sambutan hangat mengingat permen simbol dari kebahagiaan dan ketulusan.
Tetapi, di Korea Selatan, melempar orang dengan permen yeot dan menyuruh memakannya adalah sebuah penghinaan. Atau dengan kata lain berarti kata-kata kotor, sama halnya dengan kata "f*ck" dalam bahasa Inggris.
Beberapa suporter lain membentangkan banner yang bertuliskan, "Sepakbola Korea Telah Mati!!"
Saat itu Korea Selatan menjadi negara Asia terakhir yang tereliminasi dari Piala Dunia 2014.
Pencapaian terbaik mereka adalah ketika berhasil melaju hingga semifinal saat menjadi tuan rumah di Piala Dunia 2002 sebelum dikalahkan Jerman lewat gol tunggal Michael Ballack.
Pelatih Hong Myung-bo yang pada tahun 2002 menjadi kapten tim akhirnya meminta maaf kepada para suporter karena penampilan buruk timnya di Brazil 2014.
Kini, bermodal dua gol kemenangan dari Kim Young-gwon (90+4) dan Son Heung-min (90+7) saat mengalahkan juara bertahan Jerman, setidaknya tragedi permen yeot di 2014 tidak akan terulang lagi saat mereka kembali ke negaranya.
[ig: soccer_remind]
Selasa, 26 Juni 2018
Rekor Gol Dan Tangisan Neymar
Tangisan Neymar di akhir laga melawan Kosta Rika (22/6) menyita banyak perhatian publik sepakbola. Banyak yang bertanya-tanya alasan Neymar menangis.
Sesaat setelah laga, Neymar menjelaskan tentang arti tangisannya itu. Dia mengungkapkan air mata itu adalah luapan rasa bangga dan kebahagiaan karena berhasil membawa Brazil meraih kemenangan krusial.
Jauh sebelum Neymar yang kini menjadi superstar sepakbola, dia hanyalah seorang bocah yang bermimpi untuk bisa membela timnas Brazil di Piala Dunia. Kini impian itu telah terwujud.
"Tidak semua orang tahu apa yang saya alami untuk sampai di sini (Piala Dunia 2018), air mata saya adalah luapan kebahagiaan karena kami berhasil menang."
"Dalam kehidupan saya, segalanya tidak saya raih dengan mudah. Meski begitu mimpi ini akan terus berlanjut. Tidak, bukan mimpi, tapi tujuan!"
Sebelum Piala Dunia dimulai, Neymar sempat mengalami cedera parah yang harus membuatnya menepi sebelum musim 2017-2018 berakhir. Tetapi akhirnya dia berhasil pulih tepat waktu hingga disertakan dalam skuat Brazil di Piala Dunia 2018.
Dengan tambahan satu gol ke gawang Kosta Rika membuat Neymar kini masuk tiga besar rekor pencetak gol terbanyak timnas Brazil.
Kini dia telah mengoleksi 56 gol, melewati Romario dengan 55 gol. Tetapi rekor gol terbanyak sepanjang masa Brazil masih dipegang oleh Pele dengan 77 gol, diikuti Ronaldo, 62 gol.
Rekor gol para legenda itu masih bisa ia pecahkan mengingat usia Neymar yang masih 26 tahun.
[ig: soccer_remind]
Pada Akhirnya, Orang Jerman Yang Selalu Menang
Sochi, 24 Juni 2018
Kemenangan dramatis Jerman melawan Swedia mungkin tidak mengejutkan bagi mantan pemain nasional Inggris, Gary Lineker.
Dia menulis di media sosial tentang kemenangan dramatis tim Panser. Dalam tulisannya, ia memperbarui kutipan terkenal yang pernah ia ucapkan di tahun 1990.
"Sepakbola adalah permainan mudah; 22 orang berlari mengejar bola selama 90 menit, tetapi pada akhirnya orang Jerman yang selalu menang."
Itulah kutipan terkenal dari mantan pemain Barcelona, Gary Lineker yang dia ucapkan pada tahun 1990.
Lineker mencetak gol melawan Jerman Barat di semifinal Piala Dunia 1990, tetapi Inggris dikalahkan Jerman Barat lewat adu penalti yang di akhir turnamen menjadi juara.
Sebuah kekecewaan yang amat dalam dirasakan striker timnas Inggris itu yang kemudian mengucapkan kutipan legendaris tentang orang Jerman yang selalu keluar sebagai pemenang.
Kutipan itu membuktikan bahwa Lineker sangat memuji kualitas skill para pemain Jerman. Mental yang kuat meski sedikit terlambat panas kerap ditunjukkan Jerman tatkala bermain di turnamen besar. Julukan tim spesialis turnamen pun selalu disematkan kepada mereka.
Setelah Toni Kroos mencetak gol kemenangan melawan Swedia di detik-detik akhir laga, Lineker kemudian memperbarui kutipan legendaris yang pernah ia ucapkan itu.
"Sepakbola adalah permainan mudah; 22 orang berlari mengejar bola selama 82 menit, dan orang Jerman mendapatkan satu kartu merah, jadi 21 orang mengejar bola selama 13 menit, tetapi pada akhirnya bagaimanapun juga orang Jerman-lah pemenangnya."
Tulisan Lineker itu merujuk kepada Jerome Boateng yang menerima kartu merah pada menit ke-82 setelah menganjal Marcus Berg.
Gol Marco Reus di awal babak kedua berhasil menyamakan skor menjadi 1-1 setelah sebelumnya gol Ola Toivonen berhasil mengelabuhi Neuer. Kemudian gol telat Toni Kroos di menit ke-95 berhasil membawa Jerman meraih kemenangan pertama mereka di Piala Dunia 2018.
[ig: soccer_remind]
Selasa, 19 Juni 2018
Nacional Juara Piala Interkontinental Setelah Melalui 20 Penendang Penalti
Tokyo, Desember 1988
Pada 11 Desember 1988, klub asal Uruguay, Club Nacional de Football berhasil menjadi juara Piala Interkontinental setelah mengalahkan PSV Eindhoven melalui adu penalti dengan total 20 orang penendang.
Piala Interkontinental adalah kejuaraan yang mempertemukan juara Copa Libertadores (Amerika Selatan) melawan juara Liga Champions (Eropa). Kini kejuaraan ini berkembang menjadi kejuaraan antar benua yang dikenal dengan nama FIFA Club World Cup atau Piala Dunia Antar Klub.
Bermain di hadapan 62.000 suporter di stadion National di Tokyo, sang juara Copa Libertadores berhasil unggul di menit ke-7 melalui sundulan keras gelandang asal Uruguay, Santiago Ostolaza yang menyambut bola dari tendangan sudut.
Mereka unggul hingga menit ke-75 sebelum striker asal Brazil, Romario mencetak gol penyama kedudukan melalui sundulan.
Kedudukan imbang 1-1 bertahan hingga 90 menit, kemudian di babak tambahan waktu PSV berbalik unggul melalui penalti bek tengah mereka, Ronald Koeman di menit ke-110.
Tetapi sembilan menit kemudian disaat PSV merasa diambang gelar juara, Ostolaza berhasil mencetak gol keduanya sehingga membuat kedudulan sama kuat 2-2. Sehingga pertandingan harus diselesaikan melalui adu penalti.
PSV sebenarnya diuntungkan dengan dilakulannya adu penalti karena sebelumnya mereka menjuarai Piala Champions juga dengan melalui adu penalti melawan Benfica ketika menang 6-5 di babak tos-tosan.
Tetapi setelah melalui lima penendang di masing-masing tim, kedudukan tetap sama kuat. Kedua klub masing-masing mencetak 3 gol.
Ostolaza sebagai penendang kesembilan berhasil mencetak gol untuk Nacional sehingga kedudulan sama kuat 6-6. Sementara pemain PSV, Barry van Aerle gagal mencetak gol sehingga membuat wakil Uruguay berhasil menjadi juara setelah Tony Gomez berhasil menjalankan tugasnya dengan baik. PSV 6, Nacional 7.
[ig: soccer_remind]

