Jumat, 25 Mei 2018

La Liga 2002/03 - Real Sociedad; Terjungkir Menjelang Akhir

Hanya Karena Lengah di Satu Partai, dan Gelar Juara Pun Melayang

Lupakan musim 2002/03! Peluang emas untuk menjadi juara yang tinggal menyiksakan dua partai sirna. Keunggulan dua poin dari Real Madrid hingga jornada ke-36 gagal dipertahankan. Nihat Kahveci cs akhirnya harus gigit jari dan harus puas di posiai runner-up.

Di jornada ke-36, Sociedad masih memimpin klasemen dengan 73 poin. Untuk menjadi juara mereka harus memenangkan dua pertandingan sisa. Jika misi itu berhasil, poin mereka tidak akan bisa disamai oleh Real Madrid.
Tapi apa yang terjadi?

Di jornada ke-37, Sociedad takluk 2-3 di kandang Celta Vigo saat bersamaan Madrid berhasil membantai Atletico dengan skor 4-0. Posisi Sociedad di puncak klasemen dikudeta Real Madrid dengan perolehan 75 poin. Sociedad turun di posisi kedua dengan poin tidak berubah, 73.

Puncaknya berlangsung di jornada terakhir atau pekan ke-38. Ini pekan penentuan. El Real sedikit di atas angin. Selain bertanding di kandang sendiri, mereka juga unggul dua angka atas Sociedad. Hasilnya, Raul cs sukses mengalhlan Bilbao dengan skor 3-1. Dengan hasil ini, total poin El Real menjadi 78, dan dipastikan menjadi juara.

Di saat yang sama, Sociedad juga mampu menundukkan Atletico dengan skor 3-0. Toh Nihat cs tetap harus puas di posisi runner-up dengan 76 poin.

(Soccer)

Senin, 21 Mei 2018

Serie A 2001/02 - Internazionale; Tak Kuat Mental

Serie A 2001/02 - Internazionale

Hanya Karena Lengah di Satu Partai, Gelar Juara Pun Melayang

Tak Kuat Mental

Kalah mental. Inilah yang membuat Internazionale puasa scudetto di akhir musim 2001/02. Padahal, saat itu I Nerazzurri memiliki peluang besar untuk meraih Scudetto ke-14 mereka.

Apa penyebab kegagalannya?
Inter tak kuat menahan provokasi dan tekanan psikologis dari Juventus sehingga harus rela menyerahkan scudetto kepada rivalnya itu. Juventus yang berada di peringkat kedua klasemen di pekan ke-33 terus mengobarkan keyakinan akan juara. Pasalnya, di pekan terakhir Inter harus menghadapi lawan berat di kandang Lazio. Sebaliknya, Juventus hanya akan menghadapi Udinese.

Inter termakan provokasi itu. Mental mereka jatuh saat harus bertandang ke Olimpico. Keunggulan satu poin atas Juventus tidak mampu mereka pertahankan. Inter justru takluk 2-4 atas Lazio di akhir kompetisi.

Di tempat lain, Juventus sukses melibas Udinese dengan skor 2-0. Sehingga membuat mereka menjadi juara. Juventus mengumpulkan 71 poin, sedangkan Inter 69. Hasil ini membuat Inter kalah dalam perburuan scudetto.

Fakta ini semakin menyakitkan bagi I Nerazzurri karena AS Roma juga berhasil melewati mereka di detik-detik terakhir. I Giallorossi yang berada di posisi ketiga sampai pekan ke-33 juga menang 1-0 atas Torino lewat gol tunggal Antonio Cassano. Poin mereka menjadi 70. Jumlah ini otomtis membuat mereka berada di posisi runner-up.

(Soccer)

Jumat, 18 Mei 2018

Serie A 1998/99 - Lazio; Gagal Menjaga Keunggulan

Hanya Karena Lengah di Satu Partai, dan Gelar Juara Pun Melayang

Lazio berduka. Keunggulan satu poin dari AC Milan pada pekan ke-32 gagal dipertahankan I Biancocelesti hingga akhirnya gagal juara di akhir musim. Menjadikan musim 1998/99 sebagai musim kelam yang tak ingin mereka kenang.

Di pekan-pekan terakhir, I Rossoneri sukses mengkudeta Lazio sebagai pemimpin klasemen. Peristiwa itu terjadi di pekan ke-33. Ini terjadi karena Lazio gagal mengalahkan Fiorentina di Artemio Franchi.

Sebuah gol dari Gabriel Omar Batistuta di menit ke-15 sempat dibalas oleh Christian Vieri di menit ke-28. Namun Lazio gagal mencetak gol lagi hingga skor 1-1 berakhir.

Hasil imbang ini berakibat fatal. Milan yang tak dijagokan bakal juara berhasil memanfaatkannya. I Rossoneri yang memiliki poin 64 berhasil menang 4-0 atas Empoli, hingga perolehan poin Milan menjadi 67.
Akhirnya, Lazio yang di pekan ke-32 memiliki poin 65 berhasil dilewati Milan.

Langkah Milan meraih scudetto ke-16 sepanjang sejarah mereka tak tertahan lagi. Di satu partai yang tersisa, Milan menang di kandang Perugia, sementara Lazio juga menang atas Parma. Akhirnya, Milan menjadi juara dengan selisih poin di atas Lazio.

(Soccer)

Rabu, 16 Mei 2018

Bundesliga 2001/02 - Leverkusen; Trouble Horror Leverkusen

Hanya Karena Lengah di Satu Partai, dan Gelar Juara Pun Melayang

Maksud hati ingin treble, apa daya dapat trouble.

Itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan Leverkusen di musim 2001/02. Maunya meraih treble (tiga gelar) tapi justru mendapatkan trouble (masalah).

Niat Leverkusen meraih treble justru punah di akhir-akhir momen. Terlalu bernafsu untuk juara membuat mereka tersingkir dan gagal di tiga ajang yang mereka ikuti; Bundesliga 1, DFB Pokal, dan Liga Champions.

Di Bundesliga 1, selisih dua poin dari Dortmund hingga pekan ke-32 tidak mampu mereka manfaatkan. Di pekan selanjutnya, mereka kalah 0-1 dari Nurnberg dan membuat mereka gagal meraih gelar di Bundesliga 1. Pasalnya, di pekan yang sama, Dortmund berhasil menang atas Hamburg. Dortmund pun menyalip Leverkusen dengan keunggulan satu poin.

Kemenangan Leverkusen atas Hertha Berlin di pekan terakhir menjadi tidak berarti. Sebab, pada partai terakhir itu, Dortmund mampu meraih hasil sempurna dan mereka akhirnya menjadi juara.

Duka Leverkusen semakin parah ketika kalah 2-4 di DFB Pokal. Kemudian pada 15 Mei 2002, mereka takluk 1-2 dari Real Madrid di final Liga Champions.
Tragis.

(Soccer)

Selasa, 15 Mei 2018

Kisah Maradona Yang Hampir Berseragam Merah Putih

Salah satu rumor transfer paling sulit dipercaya. Tapi inilah yang terjadi. Siapa yang tidak kenal dengan maestro sepakbola Argentina, Diego Armando Maradona yang hampir saja berseragam Merah Putih.
Tentu saja Merah Putih di sini bukanlah warna kebesaran timnas Indonesia, melainkan Sheffield United.

Kembali ke tahun 1978, manajer Sheffield United saat itu, Harry Haslam, terbang ke Argentina untuk menonton Piala Dunia sekaligus mencari pemain muda berbakat.
Kemudian dia melihat pemuda berusia 17 tahun dengan talenta luar biasa bernama Maradona. Bahkan orang di Inggris pun belum pernah ada yang mendengar nama Maradona yang saat itu bermain untuk Argentinos Juniors.

Sheffield saat itu masih berada di divisi kedua Liga Inggris, tetapi mereka percaya kepada Haslam sehingga menyetujui untuk membawa Maradona dengan biaya £ 200 ribu.

Beberapa saat kemudian, Argentinos Juniors menginginkan nilai transfer lebih. Ketika kesepakatan nilai transfer diubah, Sheffield menarik diri dari semula menginginkan Maradona kemudian mereka memboyong rekan setimnya, Alejandro 'Alex' Sabella dengan biaya yang sedkitit lebih murah yaitu £ 160 ribu.

Akhirnya transfer Maradona ke klub dengan warna kebesaran Merah dan Putih itu tak pernah terjadi hingga Maradona pensiun.

Selama karirnya, Sabella menghabiskan beberapa tahun di Sheffield. Sedangkan Maradona tentu saja menjadi pemain hebat yang terkenal dengan Gol Tangan Tuhan ke gawang Inggris, diikuti gol solo run dengan melewati enam pemain Inggris di pertandingan yang sama di Piala Dunia 1986.
Di mana saat itu berhasil membawa Argentina menjadi juara dunia dan menjadi salah satu pemain terbaik sepanjang masa.

Sabtu, 12 Mei 2018

Bekas Luka Yang Membuat Dirinya Menjadi Bintang

Franck Ribery mungkin tidak pernah berpikir bisa menjadi pesepakbola hebat dan sukses seperti sekarang ini. Pasalnya pada saat berusia 2 tahun dia sangat beruntung ketika selamat dari tabrakan mobil yang melibatkan dirinya beserta keluarganya.
Dalam kecelakaan itu Ribery kehilangan saudara dan kedua orang tuanya.

Luka di wajah yang ia derita meninggalkan bekas luka yang membekas yang terlihat hingga hari ini. Pada akhirnya dia diejek oleh teman-teman kecilnya di mana dia tumbuh di Boulogne-sur-Mer, wilayah Perancis bagian utara.

Tetapi mantan pemain tim nasional Perancis itu menganggap bekas luka di wajahnya yang telah membuat dia kuat secara mental.

"Ini (bekas luka) membuat saya semakin kuat dalam segala hal", kata Ribery kepada SportBild.

Dalam sebuah wawancara, Ribery ditanya kenapa memilih tidak melakukan operasi untuk menghilangkan bekas luka itu. Kemudian dengan singkat ia menjawab, "Ini adalah takdir saya. Sedangkan bekas luka di wajah mengingatkan saya akan kekuasaan Tuhan."

[ig: soccer_remind]

Jumat, 11 Mei 2018

Matej Delac; Pemain Chelsea Dengan Masa Peminjaman Terlama

Pernah dengar nama Matej Delac?
Dia adalah kiper Chelsea yang memegang rekor sebagai pemain terlama yang dipinjamkan ke klub lain.

Sejak bergabung dengan Chelsea dari Inter Zepresic pada 2010, Delac telah mengalami masa peminjaman ke 9 klub berbeda.

Delac bergabung dengan Chelsea pada 1 September 2010. Karena masalah perizinan, ia tidak bisa didaftarkan dalam skuat Chelsea dan akhirnya dipinjamkan ke klub Belanda, Vitesse Arnhem.
Kemudian dipinjam klub Ceko, Dynamo Ceske Budejovice selama semusim pada musim 2011/12 dan hanya tampil di 5 laga.

Di awal musim 2012/13, Delac dipinjam klub asal Portugal, Victoria Guimaraes. Setelah itu kembali ke klubnya terdahulu di Inter Zepresic. Di klub asal Kroasia itu Delac hanya mampu membawa klubnya finis di posisi 10 dari 12 klub.

Pada paruh musim pertama 2013/14, kiper yang lahir pada 20 Agustus 1992 itu dipinjamkan ke klub Serbia, FK Vojvodina dan tampil dalam 18 laga. Kemudian setengah musim selanjutnya tepatnya pada musim dingin 2014 dipinjamkan ke Sarajevo, di Bosnia hingga akhir musim dan tampil di 7 laga.

Pada 1 September 2014, ia dipinjamkan ke klub kasta kedua Liga Perancis, Arles-Avignon.
Pada Februari 2015, Delac kembali ke Sarajevo, di mana ia berhasil membawa klubnya juara Liga Bosnia di mana Delac berhasil mencatat 11 cleansheet dari 15 laga.

Awal musim 2015/16, kiper bertinggi 190 cm itu kembali ke Sarajevo selama semusim penuh, tetapi ia mengalami cedera lutut hingga harus mengakhiri musim lebih cepat.

Musim 2015/16, Delac dipinjamkan ke klub Belgia, Royal Mouscron, selama semusim. Ia tampil di 28 laga di klub yang sedang mengalami krisis itu.

Pada 1 Juli 2018 mendatang, Delac memutuskan bergabung dengan klub Denmark, AC Horsens, sebagai pemain permanen.

Selama 8 tahun menjadi pemain Chelsea dan 9 kali mengalami masa peminjaman, Delac belum pernah satu kali pun tampil di pertandingan resmi bersama Chelsea.
Satu-satunya penampilan Delac bersama Chelsea terjadi ketika Chelsea menjalani tur pramusim pada tahun 2014 melawan tim Slovenia, Olimpija Ljubljana di mana Chelsea berhasil menang dengan skor tipis 2-1.

Selasa, 01 Mei 2018

Dibalik Tangisan Emosional Serey Die

Isak tangis yang tidak terkontrol mewarnai gelaran Piala Dunia 2014, ketika gelandang Pantai Gading, Geoffrey Serey Die, menangis saat menyanyikan lagu kebangsaan negaranya ketika melawan Kolombia.

Pemain kelahiran 7 November 1986 itu teringat mendiang ayahnya. Dia juga merasa sangat emosional dan bangga karena tidak pernah memikirkan bisa masuk sebagai anggota Timnas Pantai Gading.
Dia tidak pernah berpikir bisa berpartisipasi di gelaran akbar Piala Dunia.
Bahkan, menurut dirinya membela Timnas Pantai Gading adalah di luar ekspektasinya sebagai seorang pesepakbola.

Sempat ada rumor yang mengatakan Die menangis karena ayahnya meninggal beberapa jam sebelum kick off, tetapi Die membantahnya.

"Hidup saya selalu dalam kesulitan", kata Die. "Saya terkenang tentang Ayah saya yang meninggal di tahun 2004. Saya juga terkenang tentang hidup saya yang susah. Saya tidak pernah berpikir suatu hari bisa di sini, bermain (di Piala Dunia). Perasaan ini membanjiri saya dan saya orang yang sangat emosional."

"Saya berusaha menahan (air mata). Tapi tidak mampu", kata Die.

Di pertandingan lanjutan grup C itu, Pantai Gading harus mengakui keunggulan Kolombia 1-2 melalui gol James Rodriguez dan Juan Quintero. Sementara Pantai Gading memperkecil kedudulan melalui gol Gervinho.

[ig: soccer_remind]